google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Transformasi Pemerintahan Israel, Netanyahu Digantikan Sosok Lebih Bengis dan Sejarah Baru Partai Islam Israel

Pemerintahan Netanyahu Di Ujung Tanduk

Usai berperang cukup sengit dengan kelompok militer Hamas selama 11 hari, kondisi politik Israel dikabarkan sedang memanas. Kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang telah berlangsung selama 12 tahun itu dikabarkan berada di ujung tanduk. Hal ini disebabkan oleh munculnya koalisi baru, yang bertujuan untuk menggulingkan kepemimpinan Netanyahu atas Israel. 

Sebelumnya, pada tanggal 2 Juni 2020, pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid mengumumkan koalisi baru tersebut. Koalisi tersebut dilaporkan mampu memegang suara mayoritas tipis di parlemen. Namun kepemimpinan Netanyahu baru akan lengser setelah mosi tidak percaya digaungkan, yang kemungkinan tidak akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. 

Sementara itu, Netanyahu memiliki waktu yang semakin mepet untuk bisa merayu orang-orang yang mau membelot dari calon koalisi baru tersebut. Apalagi, Netanyahu statusnya juga sedang terancam atas kasus korupsi yang akan membawanya mendekam di balik jeruji besi. 

Sejumlah analis politik menyangsikan jika Netanyahu akan membiarkan hal ini begitu saja. Selama ini sosok Netanyahu adalah sosok yang akan menghalalkan segala cara agar ambisi politiknya bisa tercapai. Jadi diyakini, soal koalisi baru yang akan melengserkan dirinya, Netanyahu akan memberikan perlawanan yang sengit. 

Kabar terbaru, manuver politik dilakukan Partai Likud-nya Netanyahu dengan memanfaatkan media sosial Twitter. Di sana, para pendukung Netanyahu mendesak para mantan sekutu sayap kanan nya agar bisa segera menarik tanda tangan yang telah dibubuhkan sebelumnya.

Nantinya, pemerintahan baru Israel akan menggunakan sistem jabatan bergilir. Naftali Bennett yang seorang nasionalis agama akan ditunjuk sebagai Perdana Menteri baru Israel, menggantikan posisi Netanyahu. Dia akan menjabat selama dua tahun, dan kemudian posisinya akan diambil alih oleh Lapid. 

Akan tetapi jika pada menit akhir nanti terjadi pembelotan, maka aliansi perubahan itu akan gagal terbentuk. Pada akhirnya, Israel akan kembali menggelar pemilihan umum yang kelima kalinya dalam kurun waktu dua tahun ini. 

Koalisi Baru Oposisi Pimpinan Yair Lapid

Sebagai informasi, Ketua Partai Yesh Atid yakni Yair Lapid yang menjadi pemimpin dalam koalisi baru itu, sebelumnya merupakan seorang mantan presenter TV. Dia menjadi pimpinan partai tengah Yesh Atid. Dia memilih untuk menunda maju sebagai Perdana Menteri Israel, demi terciptanya kesepakatan koalisi. 

Keputusan Lapid itu menjadi ujung dari negosiasi panjang yang telah berlangsung lebih dari empat minggu, sejak Presiden Israel Reuven Rivlin memberikan tugas kepada Lapid untuk bisa membangun sebuah koalisi pemerintahan, karena Netanyahu dianggap telah gagal. 

Sosok Naftali Bennett kemudian ditunjuk sebagai pengganti Netanyahu di masa awal penguasaan koalisi oposisi baru, dan dia menjadi sosok kunci yang mampu menyatukan pendapat yang sebelumnya sulit tercapai. Hal ini ditandai dengan pengumuman yang dikeluarkan Bennett, di mana dia akan bergabung dengan kelompok Lapid. 

Adapun koalisi baru yang menjadi oposisi koalisi Netanyahu itu terdiri dari Partai Harapan Baru yang merupakan mantan sekutu Netanyahu, Partai Nasionalis Sekuler Avigdor Lieberman, Yisrael Beiteinu, Partai Buruh, Partai Meretz, dan juga Partai Biru Putih yang selama ini dikenal memiliki haluan tengah dari Menteri Pertahanan Benny Gantz. 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah perpolitikan Israel, koalisi ini juga diisi oleh Partai Arab Israel yakni, Partai Konservatif Islam Raam. Sebelumnya, Raam merupakan anggota dari koalisi Daftar Gabungan, namun kemudian memilih untuk memisahkan diri karena adanya perbedaan pandangan dengan anggota komunis dan juga nasionalis Arab di koalisi tersebut.

Soson Calon Perdana Menteri Baru Naftali Bennett

Sosok yang paling mencolok dan menjadi kunci utama terbentuknya koalisi oposisi baru itu adalah Naftali Bennett. Rupanya, Bennett dulunya adalah anak didik dari Netanyahu. Namun belakangan, dia menunjukkan pandangan yang berbeda dengan gurunya itu, dengan terus memberikan gangguan terhadap pendirian politik Israel. 

Dia sebelumnya bahkan secara terang-terangan menolak, apakah Partai Yamina berkeinginan untuk memberikan dukungan terhadap Perdana Menteri Netanyahu. Secara mengejutkan pula, dia lebih memilih untuk melontarkan pernyataan sikap, bahwa dia siap menggantikan posisi Netanyahu. 

Setelahnya, dia membawa Partai Yamina untuk bergabung dengan Yair Lapid sebagai sebuah koalisi baru, dan mengakhiri perdebatan dalam proses pembentukan koalisi oposisi tersebut. Keputusan Bennett, membuka peluang cukup lebar bagi koalisi oposisi untuk menggulingkan Netanyahu dalam waktu dekat. 

Pria yang kini berusia 49 tahun itu selama ini dikenal sangat mendukung pencaplokan wilayah Palestina untuk pemukiman warga Yahudi. Dia adalah sosok yang sangat benci dengan Palestina. 

Lebih lanjut, Bennet adalah seorang Yahudi Ortodoks modern yang bertempat tinggal di pinggran Tel Aviv. Dia tinggal di wilayah yang dikenal sebagai tempat orang-orang kaya. 

Orang tua Bennett merupakan kelahiran Amerika. Bennett kecil pada awalnya tinggal di Haifa, dan kemudian pindah ke Amerika Utara. Masa kecilnya itu dia habiskan di dua negara, yakni Amerika dan Israel. Bennett pernah mengenyam pendidikan militer, sekolah hukum dan bekerja di sektor swasta.

Pandangan politiknya adalah menjadi seorang yang religius namun nasionalis. Saat menjalani pendidikan militer itu, dia ditugaskan di unit Komando Elit Sayeret Matkal. Kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah hukum Universitas Hebrew. 

Karirnya mulai moncer ketika terjun ke dunia teknologi dengan lingkungan sekuler. Di tahun 1999, Bennett mendirikan perusahaan bernama Cyota, yang bergerak di bidang pembuatan software anti penipuan. Dia menjual produknya itu ke RSA Security, sebuah perusahaan asal Amerika pada tahun 2005. Dalam penjualan itu, dia mampu mengantongi USD145 juta. 

Dia pernah terjun berperang melawan kelompok Lebanon Hizbullah pada perang Israel tahun 2006 silam. Momentum itu menjadi titik balik Bennett untuk kemudian lebih berperan aktif dalam dunia politik. 

Salah satu capaian dalam karir politiknya adalah saat Bennet diangkat sebagai Kepala Staf Netanyahu, dan menduduki jabatan itu selama kurang lebih dua tahun. Hubungan antara Bennett dengan Netanyahu tidak berjalan dengan harmonis. 

Keduanya mulai terlibat konflik, karena pengaruh istri Netanyahu, yakni Sara yang terlalu ikut campur dalam karir politik sang suami. Saat itu media Israel begitu ramai memberitakan perselisihan yang terjadi di antara Bennett dengan Netanyahu. 

Pada tahun 2009, Bennett kembali terlibat konflik dengan Netanyahu. Kala itu Bennet memberikan kritikan keras atas keputusan Netanyahu. Kritikan itu ditujukan Bennet, karena kepemimpinan Netanyahu dianggap jadi biang kerok lambatnya pembangunan pemukiman, setelah pihak Amerika meminta adanya kesepakatan damai antara Israel dengan Palestina. 

Bennett tercatat juga pernah menduduki jabatan sebagai Kepala Dewan Pemukim Tepi Barat, yakni Yesha. Setelahnya pada tahun 2013, Bennett kembali masuk dalam politik nasional Israel dengan membentuk partai pendukung pro-pemukiman. 

Dari situ, Bennett ditunjuk sebagai Menteri Kabinet Urusan Diaspora, Pendidikan dan Pertahanan dalam pemerintahan Israel. Karir politik Bennett semakin moncer, saat muncul tuduhan korupsi terhadap Netanyahu, di mana Bennett juga menjadi sosok yang cukup vokal untuk menyeret Netanyahu ke jeruji besi dan menggantikan posisinya sebagai Perdana Menteri Israel. 

Sosok Naftali Bennet Yang Lebih Kejam Dari Netanyahu

Lebih Bengis Dari Netanyahu

Warga Palestina berpendapat bahwa lengsernya Netanyahu dari kursi Perdana Menteri Israel dan digantikan oleh Bennett, bukanlah sebuah kabar yang menggembirakan. Mereka menyuarakan gelombang penolakan besar-besaran atas terjadinya transformasi pemerintahan Israel. 

Warga yang bermukim di wilayah Gaza dan Tepi Barat, mayoritas menolak terjadinya perubahan di pemerintahan Israel. Mereka menilai, Bennett yang memiliki latar belakang seorang nasionalis, tidak akan jauh berbeda dengan kepemimpinan Netanyahu. Bahkan sosok Bennett dinilai lebih jahat daripada Netanyahu. 

“Tidak ada perbedaan di antara para pemimpin Israel saat ini. Entah mereka ini sosok yang baik atau buruk bagi Israel. Ketika mereka datang ke kami, sebenarnya mereka semua adalah orang-orang jahat. Mereka tidak akan memberikan hak dan tanah kepada orang-orang Palestina,” ungkap salah seorang perwakilan warga di Gaza. 

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Perwakilan dari PLO, Bassam Al-Salhi mengungkapkan bahwa sosok Bennett lebih ekstrem ketimbang Netanyahu. 

“Bennett ini akan menunjukkan betapa kejamnya dia saat menjabat di pemerintahan Israel,” kata Bassam. 

Hamas pun juga memiliki penilaian yang sama atas para pemimpin Israel yang telah ada selama ini. Apapun perubahan yang terjadi di pemerintahan Israel, hal itu tidak akan berdampak baik terhadap situasi di Palestina. Mereka tetap akan menjadi bangsa yang akan terus melakukan pendudukan dan pengusiran terhadap warga Palestina. 

“Bertahun-tahun lamanya, Palestina telah melihat bagaimana lusinan pemerintah Israel sepanjang sejarah terus memberikan tekanan kepada warga Palestina. Menariknya, mereka ini saling bermusuhan satu sama lain, dan semuanya memiliki kebijakan pendudukan yang saling bermusuhan,” jelas juru bicara Hamas, Hazem Qassem. 

Mansour Abbas dan Partai Islam Arab Raam

Gebrakan Partai Islam Israel

Tak hanya sosok Bennett yang mampu menyita perhatian publik selama terjadinya proses transformasi pemerintahan negeri Zionis itu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perpolitikan Israel sejak negara itu berdiri, Partai Arab-Islam mampu masuk dalam koalisi yang memiliki suara mayoritas dalam menentukan Perdana Menteri Israel yang baru. 

Diketahui Partai Arab-Islam Raam ini adalah partai yang ditunjuk oleh anggota minoritas Arab yang ada di Israel. Para politisi yang menggerakkan partai Raam adalah warga Palestina dengan warisan budaya, namun tercatat resmi berkewarganegaraan Israel. 

Pemimpinnya adalah Mansour Abbas. Dia menjelaskan bahwa perjanjian yang dilahirkan dari koalisi itu, akan menghasilkan dana besar yang jumlahnya lebih dari USD16 miliar. Nantinya, dana itu akan digunakan sebagai perbaikan dan peningkatan infrastruktur serta modal untuk memerangi tindak kekerasan yang selama ini terjadi di Israel. 

Sayangnya, warga Palestina tidak memandang Partai Raam dan pemimpinnya mewakili warga Arab yang ada di Israel. Justru mereka menganggap bahwa Partai Raam lebih berpihak kepada musuh. Bagi warga Palestina Raam dan Mansour Abbas adalah pengkhianat.