google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

WHO Ingin Booster Vaksin Covid-19 Segera Ditunda

NORTH MIAMI, FLORIDA – MARCH 10: A health care worker prepares to immunize a person with the Pfizer COVID-19 vaccine at the Miami Dade College North Campus on March 10, 2021 in North Miami, Florida. U.S. Army soldiers from the 2nd Armored Brigade Combat Team, 1st Infantry Division, and the Federal Emergency Management Agency are assisting with the state-run, federally-supported COVID-19 Community Vaccination Center. Joe Raedle/Getty Images/AFP (Photo by JOE RAEDLE / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan untuk segera menghentikan sementara waktu penggunaan dari vaksin penguat Covid-19 atau booster vaksin. Menurut Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, setidaknya diperluka moratorium untuk dilakukan sehingga sampai pada akhir bulan September mendatang.

‘’Langkah tersebut untuk bisa memungkinkan setidaknya sekitar 10 persen dari semua populasi masing – masing negera yang divaksinasi,’’ jelas Direktur jenderal WHO, seperti yang sudah dikutip dari AFP, pada hari Kamis 5 Agustus 2021 lalu.

Seruan untuk melakukan pemberhentian booster vaksin covid-19 saat ini adalah yang paling kuat dari badan PBB dikarenakan terjadi kesenjangan di antara tingkatan inokulasi dari negara kaya dan juga negara miskin.

‘’Saya sangat paham keprihatinan dari semua pemerintah untuk dapat memberikan perlindungan pada rakyat dari serangan varian delta. Tapi kami pun tidak bisa menerima negara yang sudah memakai sebagian besar dari pasokan vaksin global untuk menggunakannya lebih banyak lagi,’’ jelas Tendros.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), negara dengan penghasilan tinggi akan memberikan sekitar 50 dosis untuk tiap 100 orang pada bulan Mei, dan jumlah ini nyatanya meningkat dua kali lipat. Sementara untuk negara dengan penghasilan rendah hanya bisa memberikan vaksin sebanyak 1,5 dosis untuk setiap 100 orangnya, dikarenakan masih kurang pasokan vaksin.

‘’Kami masih membutuhkan pembalikan vaksin yang mendesak, dari sebagian besar vaksin ini sudah masuk ke negara dengan penghasilan tertinggi, ke sebagian negara yang memiliki penghasilan rendah,’’ tegasnya lagi.

Sejumlah negara pun sudah mulai untuk menggunakan atau pun kembali menimbangkan kebutuhan dari dosis booster vaksin covid-19.

Negara jerman menjelaskan, pada hari Senin bahwa di bula September akan baru mulai menawarkan suntikan dosis booster ini kepada kelompok yang rentan. UEA atau Uni Emirat Arab pun sudah memberikan suntikan vaksin penguat ini kepada semua orang yang sudah memeroleh dosis lengkap vaksinasi yang dianggap paling berisiko tinggi, tiga bulan sesudah dosis vaksin kedua mereka dapatkan, dan juga enam bulan untuk yang lainnya.

Minggu lalu, Issac Herzog Presiden Israel juga menerima suntikan dosis ketiga dari vaksin virus corona, mulai berkampanye untuk segera memberikan dosis vaksin penguat ini kepada orang dengan umur di atas 60 tahun pada negaranya.

Amerika Serikat juga pada bulan Juli lalu sudah resmi menandatangani kesepakatan dengan perusahaan Pfizer – BioNTech untuk membeli sebanyak 200 juta dosis tambahan vaksin covid-19. Vaksin virus corona ini digunakan untuk segera membantu program vaksinasi pada anak – anak serta kemungkinan dibutuhkannya suntikan vaksin penguat. Regulator kesehatan Amerika Serikat juga menilai masih dibutuhkannya dosis penguat tersebut.

Amerika Serikat Jelas Menolak Saran WHO Untuk Vaksin Penguat Covid-19

Amerika Serikat menolak seruan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk menundak atau pun melakukan moratorium suntikan booste atau vaksin penguat Covid-19, demi bisa membantu sejumlah negara miskin. WHO pun menginginkan moratotium suntikan dosis penguat ini untuk memberikan vaksinasi setidaknya sekitar 10 persen dari total populasi dunia pada bulan September.

WHO pun mengatakan dari negara – negara miskin yang harus berjuang dengan kekurangan pasokan vaksin parah dan juga meningkatnya angka dari pandemi Covid-19. Menurut WHO sendiri, penghentian suntikan dosis ketiga atau penguat ini setidaknya sampai akhir bulan September akan dapat mengurangi ketimpangan cukup drastis dalam hal pendistribusian vaksin antara negara kaya dengan negara miskin.

‘’Moratorium ini akan bisa membantu memerangi pandemi covid-19 yang sudah menewaskan lebih dari 4,25 juta orang di seluruh dunia,’’ jelas Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

‘’Kami tidak bisa menerima negara – negara yang sudah memakai sebagain besar pasokan dari vaksin global lebih banyak dari sebelumnya. Sementara itu kelompok orang yang paling rentan di seluruh dunia tetap tidak terlindungi lagi,’’ tegasnya lagi.

Washington masih belum memberikan kejelasan mengenai rencana vaksinasi booster ini. Namun, Gedung Putih tampak menolak seruan dari WHO, dengan alasan pemberian dosis penguat untuk warga Amerika Serikat ini termasuk dalam upaya untuk mendukung vaksinasi global.

‘’Kami benar – benar merasa bahwa pilihan ini salah dan kami pun bisa melakukan keduanya,’’ tegas Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki kepada awak media, sambil menambahkan bahwa Amerika Serikat sudah berhasil menyumbangkan lebih banyak dosis vaksin daripada negara yang lainnya.

‘’kami telah memiliki persediaan vaksin yang cukup guna memastikan setiap warga amerika mempunyai akses ke vaksin virus corona,’’ tambahnya lagi, seperti yang dikutip dari AFP, pada hari Kamis 5 Agustus 2021 lalu.

Ini termasuk seruan terbaru dari Badan Kesehatan PBB untuk negara yang kaya berbuat lebih banyak lagi dalam membantu meningkatkan akses ke vaksin di negara yang sedang berkembang.

Direktur Jenderal PBB juga menjelaskan bahwa negara kaya sudah memberikan sebanyak 100 dosis vaksin covid-19 untuk rata – rata tiap 100 orang. Sementara bagi negara miskin yang terhambat pasokan vaksin terbatas, hanya bisa menyediakan sekitar 1,5 dosis untuk 100 orangnya.

Hingga sekarang ini, ada beberapa negara yang sudah muali menggunakan atau pun menimbangkan kembali kebutuhan vaksin penguat. Adapun negara tersebut di antaranya adalah sebagai berikut :

  • Jerman

Jerman akan segera mulai menawarkan vaksinasi penguat pada bulan September mendatang, lebih khususnya untuk kelompok orang yang rentan.

  • Uni Emirat Arab

UEA juga sudah mulai memberikan suntikan vaksin penguat bagi semua orang yang telah mendapatakan vaksinasi lengkap yang dianggap berisiko cukup tinggi, tiga bulan sesudah mendapatkan dosis lengkap vaksin virus corona. Sementara bagi kelompok masyarakat yang lainnya jarak pemberian sekitar enam bulan setelah suntikan dosis lengkap.

  • Israel

Pada minggu lalu, Presiden Israel Isaac Herzog sudah mendapatkan suntikan dosis penguat virus corona. Israel pun sudah mulai memberikan dosis ketiga ini kepada orang dengan umur di atas 60 tahun.

  • Amerika Serikat

Di bulan Juli lalu, Amerika Serikat sudah resmi tanda tangan kesepakatan dengan perusahaan Pfizer – BioNTech untuk segera membeli 200 juta dosis tambahan vaksin virus corona. Vaksin ini akan diberikan untuk program vaksinasi anak dan kemungkinan besar suntikan penguat.

  • Indonesia

Indonesia juga sudah mulai menyuntikkan vaksin penguat virus corona kepada para tenaga kesehatan. Vaksin yang dipakai ini adalah vaksin Moderna.