google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

WHO Memberikan Tanggapan Mengenai Dosis Vaksin Yang Berbeda

Tanggapan WHO terkait dosis vaksin yang berbeda

Sampai sekarang ini penelitian seputar efektivitas mencampurkan dosis vaksin Covid-19 yang berbeda masih sangatlah terbatas. Sejauh ini pun data yang berkaitan dengan pencampuran vaksin Covid-19 hanyalah sebatas untuk jenis vaksin AstraZeneca dan juga vaksin dengan platform mRNA yang lainnya, seperti halnya Moderna atau pun Pfizer BioNTech.

Hasilnya pun adalah pemberian dari dosis vaksin AstraZeneca, lalu Moderna atau pun Pfizer untuk suntikan dosis berikutnya suda terbukti mampu memberikan respons antibodi yang jauh lebih kuat.

Beberapa negara seperti Prancis, Finlandia, Kanada, Swedia, Spanyol, Norwegia dan juga Korea Selatan saat ini mulai memberlakukan pencampuran dosis vaksin Covid-19 dari berbagai jenis.

Beberapa negara yang sudah melakukannya pun dikarenakan kurangnya suplai, namun ada juga yang sengaja melakukan agar dapat meningkatkan efektivitas pada vaksin virus corona. Lantas, apakah mencampurkan dosis vaksin Covid-19 ini sudah benar – benar terbukti aman?

Melansir dari situs Reuters, Soumnya Swaminathan selaku kepala ilmuwan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa adanya pencampuran dari dosis vaksin virus corona ini bisa dikatakan sebagai tren yang dapat membahayakan.

Oleh karena itulah, seseorang yang ingin sekali mencampurkan dosis vaksin ternyata tidka boleh memutuskan secara sepihak. Yang diperbolehkan hanyalah lembaga kesehatan masyarakat memiliki wewenang dalam memutuskannya serta mengacu pada data yang telah tersedia.

Bolehkan Pencampuran Dosis Vaksin Virus Corona Dilaksanakan?

Berdasarkan penuturan dari ahli penyakit infeksi WHO, Dr Katherin O’Brien, sekarang ini sudah ada sebanyak 17 jenis vaksin virus corona yang telah dipergunakan di seluruh dunia. sebagain besar dari vaksin Covid-19 ini pun bekerja dengan cara langsung menargetkan atau fokus pada spike protein virus.

Untuk sekarang ini, data ilmiah yang berkaitan dengan pencampuran vaksin virus corona mampu menghasilkan efektivitas tinggi guna menargetkan protein lonjakan masih sangatlah terbatas sekali.

Oleh karena itulah, masih diperlukan banyak data ilmiah yang konkret berkaitan dengan jenis vaksin apa saja yang diperbolehkan untuk dicampur guna mempertahankan efektivitas dari vaksin tersebut. Kombinasi dari jenis vaksin Covid-19 yang tidak disetujui ini pun dapat pula menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia serta mengurangi efektivitasnya.

Efek samping yang bisa saja muncul dari kombinasi jenis vaksin Covid-19 dilaporkan bahwa hampir menyerupai pemberian dosis vaksin pada umumnya.

Pencampuran kedua jenis vaksin dari produsen yang berbeda untuk penyakit tertentu, seperti halnya hepatitis A, influenza maupun penyakit yang lainnya, sebenarnya sudah pernah dilakukan beberapa waktu lalu.

Kadang, langkah keputusan ini sengaja diambil karena stok vaksin yang sangat terbatas, waktu produksi yang terlambat, data terbaru mengenai efek samping vaksin masih dalam penelitian lebih lanjut serta masih banyak alasan yang lainnya.

Jadinya, muncul pertanyaan apakah kombinasi atau pencampuran dosis vaksin tersebut boleh dilakukan, semuanya tergantung pada jenis vaksin yang digunakan. Dikarenakan tidak seluruh jenis vaksin bisa saling dicampurkan.

Apabila Anda masih belum memeroleh suntikan dosis vaksin virusc corona, ada baiknya untuk segera mendapatkannya. Sebelum memeroleh suntikan vaksin Covid-19, pastikan juga tubuh Anda tidak sedang sakit serta masih dalam keadaan sehat bugar.

Untuk dapat menjaga daya tahan tubuh Anda, wajib menjaga pola makan setiap hari, rajin melakukan olahraga ringan, waktu tidur yang cukup, serta konsumsi suplemen jika diperlukan.

Penelitian Ilmiah Berkaitan Dengan Kombinasi Dosis Vaksin Covid-19

Hingga sekarang ini, data ilmiah yang berkaitan dengan pencampuran atau kombinasi vaksin virus corona masih sangat terbatas dan hanya untuk jenis vaksin produksi AstraZenena serta vaksin dengan platform mRNA yang lainnya, seperti Moderna dan juga Pfizer BioNTech.

Dr Katherine pun menjelaskan bahwa pemberian suntikan dosis vaksin Covid-19 AstraZeneca, lalu Moderna atau pun Pfizer untuk dosis selanjutnya sudah terbukti mampu memberikan respons antibodi yang cukup kuat.

Misalnya, di Amerika Serikat, uji klinis tengah dilakukan berkaitan dengan penggunaan vaksin campuran sebagain suntikan booster atau penguat kepada orang dewasa yang telah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap.

Jerman dan juga Prancis sudah menyarankan untuk campuran vaksin ini dalam beberapa kasus tertentu. Hal tersebut dikarenakan pemerintah setempat tidak lagi memberikan rekomendasi vaksin Covid-19 AstraZeneca bagi kelompok umur tertentu.

Sementara itu juga, Finlandia, Swedia, Kanada, Prancis, Korea Selatan hingga Spanyol pun sudah memberikan izin penggunaan jenis vaksin yang berbeda untuk dosis yang kedua apabila dosis yang pertama diberikan dengan merek dari AstraZeneca.

Studi Combivacs di Spanyol menunjukkan bahwa seseorang yang sudah menerima suntikan dosis pertama dari vaksin AstraZeneca dan juga dosis kedua vaksin Covid-19 Pfizer mempunyai respons yang cenderung lebih kuat dibanduingkan dengan pasien yang menerima dua dosis suntikan dari jenis AstraZeneca.

Hasil studi lainnya yang dilakukan oleh Oxford Vaccine Group’s Com – Cov trial juga menunjukkan hasil bahwa seseorang yang telah mendapatkan vaksin campuran justru bisa mengalami efek samping yang begitu parah. Meskipun demikian adanya, studi tersebut masih belum menentukan dampak dari pencampuran vaksin Covid-19 pada sistem kekebalan tubuh manusia.

Para peneliti dari National Istitutes for Food and Drug Control di China beberapa waktu lalu sempat melakukan pengujian pada empat jenis vaksin virus corona yang berbeda pada objek tikus. Hasilnya adalh tikus yang menerima suntikan dosis pertama dari vaksin adenovirus dibarengi dengan dosis kedua dari jenis vaksin Covid-19 yang berbeda mempunyai respons imun tubuh lebih kuat. Tetapi, hasil tersebut tidak terjadi pada saat jenis vaksin yang diberikan dalam urutan yang terbalik.