google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

WHO Resmikan Vaksin Penyakit Malaria Pertama Untuk Anak – Anak

Penyakit malaria ini dapat menimbulkan gejala ringan, tetapi tidak sedikit pula yang menimbulkan gejala parah bahkan mengancam jiwa. Meskipun di beberapa negara penyakit tersebut tidak lagi ditemukan, namun untuk di sejumlah negera di kawasan Asia dan Afrika, malaria ini masih menjadi endemi yang begitu mengancam nyawa pengidapnya.

Baru – baru ini pun, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah meresmikan vaksin malaria pertama bagi anak – anak. Nah, bila Anda ingin tahu seputar vaksin untuk penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Anopheles ini, bisa langsung ikuti penjelasan lengkap kami di bawah ini.

Vaksin Pertama di Dunia Untuk Penyakit Malaria

Penyakit malaria ini merupakan jenis infeksi parasit yang berasal dari gigitan nyamuk. Bila seseorang telah terinfeksi virus tersebut, maka bisa merasakan gejala seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, rasa lelah hingga gangguan pada pencernaan.

Penyakit ini pun dapat berakibat fatal dikarenakan bisa menyebabkan komplikasi yang begitu membahayakan nyawa pengidapnya, seperti kesulitan bernapas, anemia hingga kegagalan organ penting tubuh. Komplikasi yang disebabkan oleh penyakit malaria juga berisiko tinggi untuk menyerang ibu hamil, anak – anak dan juga lansia.

Oleh sebab itu, orang yang sudah terinfeksi pun perlu mendapatkan pengobatan malaria dengan tepat. Di sisi lainnya, tindakan pencegahan juga sangat dianjurkan. Hal ini bertujuan agar bisa menekan angka kematian yang diakibatkan oleh komplikasi penyakit malaria.

Pada tanggal 6 Oktober 2021 lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya telah menyetujui dan merekomendasikan vaksin Mosquirix (RTS,S/AS01) untuk penanganan penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Anopheles tersebut.

Berbagai penelitian maupun percobaan selama mengembangkan vaksin malaria ini juga telah dilakukan sejak tahun 1960. Akan tetapi, barulah pada tahun ini uji klinis vaksin malaria telah menunjukkan hasil yang sesuai harapan dan dapat dipergunakan untuk masyarakat umum.

Tingkat Efikasi Vaksin Dalam Pencegahan Penyakit Malaria

Setelah melewati berbagai macam percobaan, penelitian vaksin penyakit malaria pun pada akhirnya telah menunjukkan hasil yang sangat efektif dalam mencegah penyakit malaria. Pada studi permodelan di tahun 2020 lalu, penggunaan vaksinasi diperkirakan mampu mencegah sekitar 5,4 juta kasus dan 23.000 kematian pada anak – anka di bawah umur 5 tahun yang diakibatkan oleh penyakit malaria.

Penelitian yang lainnya pun menunjukkan pemberian kombinasi obat dan juga vaksinasi kepada anak – anak selama musim penularan, ternyata jauh lebih efektif dalam hal mencegah gejala penyakit malaria yang begitu parah serta mengurangi kasus rawat inap serta menekan angka kematian akibat penyakit tersebut.

Uji coba vaksin pun baru – baru ini dengan menggabungkan vaksin dan juga obat selama musim penularan menemukan bahwa pendekatan ganda ternyata jauh lebih efektif dalam proses pengecehan penyakit yang parah, kasus rawat inap dan juga kematian dibandingkan dengan salah satu metode saja.

Perlu untuk diketahui, di negara dengan angka kasus malaria yang cukup tinggi dapat menyerang orang yang sama beberapa kali.

Infeksi berulang ini pun bisa menurunkan kinerja sistem imunitas tubuh hingga membuat orang tersebut lebih rentan mengalami penyakit yang lainnya. Hal ini pun yang jadi alasan mengapa penyakit malaria ini bisa menyebabkan angka kematian begitu tinggi di sejumlah negera.

Setelah pengamatan lebih lanjut lagi, pemberian vaksinasi ini pun bisa meningkatkan presentase anak – anak terlindungi dari penyakit malaria lebih dari 90 persen.

Bagaimana Perkembangan Vaksin Malaria Untuk Saat Ini?

Sampai sekarang ini pun sudah lebih dari 2,3 juta dosis vaksin yang didistribusikan ke berbagai negara yang kasus malaria cukup tinggi, di antaranya adalah Malawi, Ghana, dan juga Kenya.

Vaksin ini juga sudah menjangkau lebih dari 800 ribu anak. Vaksin malaria pun telah diberikan sebanyak tiga dosis suntikan antara umur 5 sampai dengan 17 bulan, serta dosis keempatnya bakalan disuntikkan kembali sekitar 18 bulan kedepan.

Sesudah melewati berbagai macam uji klinis beberapa kali, pada akhirnya vaksin malaria ini dimasukkan ke dalam program imunisasi rutin setiap negara dengan catatan kasus malarian yang cukup tinggi.

Menurut seorang pimpinan program implementasi vaksin malaria dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Mary Hamel, menjelaskan bahwa proses distribusi yang masih lambat hingga bisa berinsektisida pada masyarakat tentu saja membutuhkan waktu yang lama hingga bertahun – tahun.

Memasukkan vaksin malaria ke dalam bagian dari imunisasi rutin juga bisa lebih cepat dan mudah untuk didistribusikan, walaupun di tengah musim pandemi Covid-19.

Efek samping yang muncul hampir sama seperti jenis vaksin lainnya, yaitu terjadinya pembengkakan atau pun rasa nyeri pada lokasi bekas suntikan dan juga demam.

Akan tetapi, pada beberapa anak tertentu, pemberian vaksinasi malaria ini juga dapat meningkatkan risiko demam hingga kejang dalam waktu sehari sesudah mendapatkan suntikan dosis vaksin.

Catatan Kasus Malaria di Indonesia

Data dari Kemenkes RI menyebutkan angka kasus positif malaria di Indonesia mengalami penurunan sejak tahun 2010 lalu.

Lebih tepatnya dari 465,7 ribu kasus menjadi 235,7 ribu kasus di tahun 2020. Bila dilihat dari angka ini, pemerintah dan masyarakat telah berhasil menghilangkan kasus malaria di beberapa wilayah di Indonesia.

Upaya pencegahan yang telah dilakukan pemerintah Indonesia juga masih dengan cara memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penyakit malaria, jenis obat yang ada di setiap daerah, hingga penggunaan kelambu saat tidur di malam hari.

Kasus malaria yang masih sangat tinggi, yaitu di daerah Maluku dan juga Papua. Oleh sebab itulah, vaksin malaria pertama yang sudah disetujui oleh WHO tersebut turut membuka harapan kepada kita semua supaya penyakit ini dapat hilang.